Tag

, ,

SEPUTAR BURUNG PARUH BENGKOK

 
 
PENGANTAR:
 
Pada halaman ini khusus disajikan  tentang aneka burung paruh bengkok yang dilindungi karena kelangkaannya. Penyajian di sini ditujukan untuk menarik minat penghobi burung atau penyanyang binatang untuk memulai menangkarkannya. Salam.
 
Burung paruh bengkok secara ilmiah dikelompokkan ke dalam bangsa (ordo) Psittaciformes dan hanya memiliki suku (famili) tunggal, yaitu Psittacidae yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai parrot. Suku ini dibagi 3 anak suku berdasarkan morfologi dan kebiasaan makannya, yakni burang kakatua (Cacatuiinae), nuri (Loriinae), dan betet (Psittaciinae). Di seluruh dunia tercatat ada 328 jenis burang parah bengkok, sementara di Indonesia sendiri terdapat 76 jenis (23,17%) dan 14 jenis (18,42%) di antaranya merupakan burung yang dilindungi.
 
A. KLASIFIKASI

Menurut Gruson (1976) klasifikasi burung paruh bengkok adalah sebagai berikut :

* Filum           : Chordata
* Anak filum  : Vertebrata
* Kelas           : Aves
* Bangsa        : Psittaciformes
* Suku            : Psittacidae
* Anak suku   : – Cacatudinae
   Marga :
      – Cacatua
      – Probosciger
      * Jenis:
           – Cacatua galerita
           – Cacatua sulphurea
           – Cacatua moluccensis
           – Cacatua alba
           – Cacatua goffini
           – Probosciger aterrimus
* Anak suku : Loriinae
   Marga :
      – Lorius
      – Trichoglossus
      – Eos
      – Psittrichas
     * Jenis:
          – Lorius lory
          – L. domicellus
          – Trichoglossus ornatus
          – Eos histrio
          – Psittrichas fulgidus
* Anak suku : Psittaiinae
   Marga :
      – Eclectus
      – Tanygnathus
      – Loriculus
    * Jenis :
          – Edectus roratus
          – Tanygnathus sumatranus
          – Loriculus exilis
          – L. catamene
 
Anggota burung paruh bengkok banyak digemari orang karena mempunyai berbagai keistimewaan, seperti mudah dijinakkan dan akrab dengan manusia, mampu menirukan suara, mempunyai bulu yang indah, mengundang kelucuan, serta relatif mudah untuk berbiak.
 
Dengan keistimewaannya tersebut menjadikan masyarakat sangat tertarik untuk memelihara dan merawatnya. Oleh karenanya, berbagai seluk-beluk burung ini, seperti morfologi, penangkaran, pakan, serta kesehatannya layak untuk diketahui dan dipahami.
 
Disebut burung paruh bengkok karena memang bentuk paruhnya bengkok. Berbeda dengan paruh burung pemangsa, seperti elang, rajawali, dan burung hantu yang bersifat perobek, burang paruh bengkok mempunyai paruh yang bersifat masif (padat dan kompak). Paruh bagian atas dan bagian bawah berbentuk bengkok menyerupai alat catut.
 
Dengan bentuk demikian, paruh ini bersifat penghancur (pemecah) biji-bijian besar dan kecil yang keras sekali pun.
 
Burung paruh bengkok ini dapat dibedakan menjadi 3 kelompok berdasarkan bentuk lidah, cara makan, keberadaan bulu di kepala (jambul) yang dapat ditegakkan (ereksi), serta warna bulunya.
 
Kelompok tersebut adalah kakatua, nuri, dan betet.
 
B. KELOMPOK  KAKAKTUA
 
Ciri khas dari burang kelompok kakatua adalah adanya bulu jambul yang dapat ditegakkan. Ciri lainnya terdapat pada bentuk lidah dan cara makannya. Lidah kakatua berbentuk kubus yang permukaannya halus. Pakannya berupa biji-bijian dengan kulit yang keras maupun lunak.
 
Cara makannya dengan memecahkan kulit biji tersebut menggunakan paruhnya yang kuat kemudian mengambil isinya dengan bantuan lidahnya. Kakatua dikenal mempunyai struktur dan bentuk paruh yang paling kuat dan kokoh di antara kelompok paruh bengkok. Warna bulu tubuhnya hanya putih, merah muda, dan hitam.
 
Daerah asal kakatua terbatas di daerah Indonesia Timur, yaitu Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Papua Nugini, Kepulauan Pasifik, dan Australia juga termasuk daerah asal kelompok burang ini.
 
Beberapa jenis kakatua yang dilindungi adalah kakatua koki, kakatua raja, kakatua-kecil jambul-kuning, kakatua tanimbar, dan kakatua maluku.
 
1. Kakatua Raja (Probosciger Aterrimus)
 
 
     Kakatua raja mudah dibedakan dengan jenis lain dari bulu tubuh dan jambulnya yang berwarna hitam serta “pipi” berwarna merah tua.
 
      a. Deskripsi dan penyebaran
 
Jenis kakatua ini mempunyai ukuran tubuh antara 55—70 cm. Bulu tubuh dan jambulnya berwarna hitam dengan “pipi” berwarna merah tua.
Penyebarannya meliputi daerah sekitar Papua dan Australia.
 
     b. Anak jenis
 
Jenis ini mempunyai 3 ras atau anak jenis, yaitu goliath, stenolophus, dan aterrimus.
  1. P. a. goliath. Di antara ke-3 anak jenis kakatua raja, P. a. goliath mempunyai ukuran tubuh yang paling besar, yaitu antara 60—70 cm. Penyebarannya di Papua yang meliputi daerah sekitar Papua bagian barat, daerah kepala burung, dan P. Waigeo.
  2. P. a. aterrimus. Ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan P. a. goliath, yaitu berkisar 55—60 cm. Penyebarannya meliputi daerah Papua bagian selatan, P. Aru, sampai Australia bagian utara.
  3. P. a. stenolophus. Ukuran tubuhnya hampir sama dengan anak jenis goliath, tetapi lebar bulu jambulnya lebih sempit. Penyebarannya berada di sekitar Papua bagian utara dan P. Yapen.
     c. Status populasi
 
Anak jenis goliath dan stenolophus masing-masing diperkirakan berjumlah 20.000 ekor. Sementara kondisi aterrimus hampir langka karena populasinya diperkirakan hanya 10.000 ekor saja. Sementara yang dipelihara ex situ (penangkaran) di seluruh dunia diperkirakan sekitar 350 ekor. Burang ini dilindungi sejak tahun 1970 melalui SK Menteri Pertanian No. 42/Kpts/Um/1970 dan dipertegas dengan Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999.
 
2. Kakatua Tanimbar (Cacatua Goffini)
  

 

Disebut kakatua tanimbar karena burung ini hanya terdapat di P. Tanimbar, Maluku.
 
     a. Deskripsi dan penyebaran
 
Panjang tubuh kakatua tanimbar sekitar 32 cm. Bulu dan jambul-nya berwarna putih. Demikian juga kelopak matanya berwarna putih kebiruan dan lore (bulu di atas paruh) berwarna merah muda. Penyebarannya hanya terdapat (endemik) di P. Tanimbar (Maluku) dan sekitarnya, yaitu P. Yamdena, Larat, dan Selara.
 
     b. Status populasi
 
Populasi kakatua tanimbar di alam diperkirakan lebih dari 200.000 ekor. Pengikisan populasi diakibatkan oleh deforestasi dan penangkapan, baik untuk diperdagangkan maupun dianggap sebagai hama perkebunan jagung. Jenis kakatua ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999.
 
 
3. Kakatua Koki atau Kakatua-Besar Jambul-Kuning (Cacatua Gallerita)
 
 
 
Ukuran tubuh yang relatif besar dan adanya jambul yang berwarna kuning menjadi ciri khas dari jenis kakatua ini.
 
    a. Deskripsi dan penyebaran
 
Ukuran tubuh jenis kakatua ini berkisar 30—52 cm. Bulu tubuhnya berwarna putih dengan jambul berwama kuning. Warna kuning juga terdapat di bawah sayap dan ekor. Lingkaran mata berwarna biru pucat atau putih, tergantung ras kakatuanya. Jeritannya sangat keras melengking. Penyebarannya meliputi daerah Kepulauan Maluku, Papua.
 
    b. Anakjenis
 
Jenis ini mempunyai 4 ras (anak jenis). Namun, kakatua yang penyebarannya berada di wilayah Indonesia hanya 2 anak jenis, yaitu kakatua koki medium (C. g. eleonoralC. g. aruensis) dan kakatua koki besar (C. g. triton)
 
1) Kakatua koki medium atau kakatua-mediumjambul-kuning (C. g. eleonoralC. g. aruensis)
Penyebaran kakatua ini meliputi daerah sekitar P. Aru dan P. Kai. Kakatua koki medium sering disebut kakatua jambul kuning ukuran medium atau sedang. Ukuran sayapnya antara 26,1—29,2 cm dan merupakan ras yang terkecil. Ciri khas lain dari kakatua ini adalah kelopak matanya berwarna biru sangat pucat.
 
2) Kakatua koki besar atau kakatua-besarjambul-kuning (C.g. triton)
Penyebaran kakatua koki besar meliputi daerah di sekitar P. Papua. Kakatua ini sering disebut kakatua koki besar karena tubuhnya lebih besar dari pada C. g. eleonora. Panjang sayapnya antara 26,1—34,7 cm. Kelopak matanya berwarna biru muda. Dua anak jenis lain yang terdapat di Australia, yaitu C. g. galerita yang penyebarannya di sekitar Australia dan C.g.fitzroyi yang penyebarannya di sekitar Australia bagian utara.
 
    c. Status populasi
 
Di alam, populasi kakatua koki menunjukkan angka yang stabil dan relatif aman, yakni tercatat sekitar 500.000 ekor. Di Indonesia, pengikisan populasi kakatua koki terjadi karena perusakan habitat yang berupa hutan dataran tinggi (sampai sekitar 1.000 m dpl), pembunuhan karena dianggap hama pengganggu tanaman jagung, serta ditangkap secara liar dan semena-mena untuk diperdagangkan sebagai hewan kesayangan.
 
Sebagai upaya pelestariannya, kakatua koki ditetapkan sebagai burung yang dilindungi sejak tahun 1978 melalui SK Menteri Pertanian No. 742/Kpts/Um/12/1978 dan dipertegas lagi dengan Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999. Burung ini, terutama ras ukuran besar (C.g.triton), mempunyai kemampuan untuk menirukan suara-suara di sekelilingnya (burung pelatah) serta mempunyai perilaku yang lucu dan jinak terhadap manusia.
 
4. Kakatua-Kecil Jambul-kuning (Cacatua Sulphurea)
 
 
 
Jenis kakatua ini berasal dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur.
 
    a. Deskripsi
 
Panjang tubuh berkisar antara 33—35 cm.
 
    b. Anak jenis
 
Jenis kakatua ini mempunyai 4 anak jenis (subspesieslras) yang ciri-cirinya dapat dilihat pada Tabel 2.
Keempat anak jenis tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea sulphurea). Ras ini dijumpai di P. Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya, seperti Mina, Butung, Tanah Jampea, Kayuadi, Kaleo, Kalatoa, Madi, dan Kep. Tukangbesi.
  2. Kakatua putih kecil jambul jingga (C. s. titrinocristatd), dijumpai di P. Sumba.
  3. Kakatua kecil abbot (C. s. abboti) yang dijumpai di p. Masalembo dan P. Masakambing.
  4. Kakatua timor (C. s. parvula): dijumpai di Nusa Tenggara, seperti di P. Lombok, Sumbawa, Komodo, Rinca, Padar, Flores, Pantar, Alor, Semau dan Timor.
    c. Status populasi
 
Di seluruh dunia, burung kakatua jenis ini diperkirakan ada 40.000 ekor, meliputi in situ dan ex situ. Sementara setiap anak jenis raempunyai tingkat kelangkaan yang berbeda. Untuk anak jenis sulphurea populasi terbanyak yang masih dapat bertahan terdapat di P. Buton, yakni 50—100 ekor pada sensus tahun 1997.
 
Anak jenis parvula tersebar di di beberapa pulau di Nusa Tenggara, di antaranya yang mempunyai populasi terbanyak dilaporkan di P. Komodo sebanyak 85—90 ekor (sensus 1995) dan di P. Moyo diperkirakan ada 1.600 ekor (sensus 1981).
 
Anak jenis citrinocristata diperkirakan antara 1.150—2.644 ekor (analisa tahun 1995) yang telah mengalami penurunan populasi terparah pada tahun 1986—1989, yakni mencapai 80%.
 
Anak jenis yang paling langka, yaitu abboti yang saat ini hanya tersisa 5 ekor saja di P. Masakambing (sensus tahun 1997). Kecenderungan kelangkaan ini terutama disebabkan oleh penangkapan untuk diperdagangkan dan juga karena perasakan liabitat alaminya.
 
Berdasarkan catatan menunjukkan bahwa perdagangan ekspor jenis kakatua-kecil jambul-kuning mencapai sekitar 100.000 ekor pada tahun 1980—1992. Sementara di habitat yang beragam mulai dari daerah perkebunan, tepi hutan sampai luitan dengan ketinggian 800 m dpl terus mengalami pi’ngikisan.
 
Jenis kakatua ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Kl No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
 
 
 
 
5. Kakatua Maluku (Cacatua Moluccensis)
 
 
 
Sesuai namanya, burung ini berasal dari pulau rempah, yaitu Maluku.
 
     a. Deskripsi dan penyebaran
 
Panjang tubuh kakatua maluku antara 40—50 cm. Bulu dan jambulnya berwarna merah muda. Kelopak matanya putih. Paruhnya berwama hitam. Gerakannya lambat. Penyebarannya meliputi P. Seram, Saparua, dan Haruku yang terdapat di Maluku.
 
    b. Status populasi
 
Kakatua maluku hidup di dataran rendah antara 100—1.200 m dpl di daerah hutan primer dataran rendah. Populasinya terus menurun dan saat ini jumlahnya diperkirakan tinggal sekitar 8.000 ekor saja. Salah satu sebab penurunan populasi karena perdagangan yang pernah mencapai 5.000 ekor per tahun pada 1981—1985. Kini jenis ini menjadi rentan dan dimasukkan ke dalam apendiks ICITES. Jenis ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999.
About these ads